Anda disini : TOP >> Pra Nikah >> Jebakan Itu Bernama Visi
Jebakan Itu Bernama Visi

Pertama-tama saya berterima kasih yang sebesar-besarnya atas perhatian dan komentar yang di-shadaqah-kan rekan2 sekalian pada blog yang saya kelola ini, semoga mendapat balasan dari Allah SWT sesuai dengan niat masing-masing. Sebagai bagian dari pembelajaran dan bentuk terima kasih saya, insya Allah saya berusaha menulis beberapa artikel yang berseri. Untuk seri pertama ini saya hadirkan di tengah rekan2 sekalian dengan topik sekitar visi, misi dan program kita yang dihubungkan dengan keputusan untuk menikah, poligami, cerai, atau bahkan tidak menikah sama sekali. Sekali lagi saya mohon dukungan rekan2 sekalian untuk tidak bosan memberi saya masukan baik secara terbuka maupun melalui email : abanyamuhammad@yahoo.co.uk dan tentu saja do¡Ça.

 

Acara malam suatu stasiun televisi swasta meliput tentang penggunaan susuk pada kalangan pekerja seks. Alasan pemakaian susuk bagi mereka adalah demi kepuasan pelanggan, karena persaingan sesama pekerja seks sudah sedemikian tingginya sehingga tidak bisa lagi menggunakan cara2 konvensional yang hanya mengandalkan kemudaan dan paras, tapi juga harus ada dukungan supranatural alias klenik.

 

Yang menarik adalah ketika mereka2 yang menjadi nara sumber ditanya tentang, ¡ÈApa gak takut dosa?¡É Perbuatan melacurnya saja sudah dosa besar ditambah lagi dengan percaya dukun yang menjurus ke syirik. Jawaban mereka, ¡ÈSebenarnya saya tahu ini dosa tapi mau bagaimana lagi? Liat nanti aja lah!¡É

 

Rekan2 sekalian, mengenaskan sebuah hidup tanpa tujuan. Sungguh membuat mengiris hati mengarungi berjalan tanpa tahu harus kemana. Jalani saja! mungkin sudah takdirku begini¡Ä Apa yang akan anda katakana ketika berjumpa seseorang di halte bis kemudian ditanya, ¡ÈMau kemana pak/bu?¡É lalu dijawab ¡ÈGak tau¡É atau bahkan ¡ÈSaya justru mau tanya saya mau kemana?¡É Pikiran kita pasti langsung melayang ¡ÈNgapain dia ada di sini? Jualan nggak, preman mau malak bukan, mau kemana gak jelas, mending di rumah, tidur, nonton tv.¡É

 

Anda bisa bayangkan pula bagaimana halnya jika yang tidak punya visi itu adalah sebuah keluarga? Banyak manusia ketika menikah tujuannya hanyalah untuk melegalkan sebuah hubungan seks, punya anak, punya rumah, punya kerjaan tetap dst¡Ä rekan2 sekalian tentunya sudah membaca artikel Cari Jodoh Yuk.. di mana wanita yang hendak kita jadikan pasangan hidup memiliki criteria dunia dan criteria akhirat. Rasulullah SAW telah menganjurkan pada kita untuk memilih criteria akhirat tentu bukan tidak ada tujuannya. Tujuannya adalah untuk memenuhi visi besar kita tentang hidup dan kehidupan kita baik di dunia maupun akhirat. Artinya ketika memang seorang pria tidak memiliki visi yang besar maka ia cenderung tidak butuh spesifikasi yang tinggi dalam hal apapun. Untuk mencari pasangan hidup cukup dengan spesifikasi ala kadar, apa adanya, yang penting cantik enak dilihat, kaya fasilitas dan meningkatkan prestise. Selesai!

 

Sebaliknya jika seorang pria memiliki visi besar dalam hidupnya dia akan mencari kesempurnaan (menurut ukurannya) dalam segala hal. Mencari isteri dengan kualifikasi sesuai wasiat Rasulullah SAW adalah salah satu perwujudannya. Tidak mau makan dari hasil usaha syubhat juga di antaranya. Mencari guru dan buku yang terbaik adalah termasuk dari upaya optimalnya untuk meningkatkan kualitas dirinya. Bergaul hanya dengan orang yang terbaik akhlaq adalah untuk membersihkan dirinya dari sifat2 buruk.  Beribadah dengan baik dan benar sesuai sunnah dengan niat yang ikhlash dan khusyu¡Ç adalah upayanya untuk taqarrub ila Allah.

 

Jadi sebenarnya apa visi manusia hidup di dunia? Sebelum jauh ke visi ada baiknya saya mencoba mengelaborasi makhluq apakah ia? Visi secara bahasa adalah bagaimana seorang manusia melihat dirinya di masa yang akan datang. Jika seseorang melihat dirinya sebagai pengusaha sukses 5 tahun yang akan dating dengan berbagai fasilitas yang serba wah, itulah visinya selama 5 tahun ke depan. Sebagai muslim apa misi kita? Saya jawab masuk al jannah (surga) tanpa harus masuk neraka dulu. Apa kita tidak boleh punya visi yang lain? Boleh aja tapi harus berupa milestone bukan visi akhir kita.

 

Rekan2 sekalian agaknya bukan tanpa maksud Allah SWT menggambarkan surga seakan-akan kita melihat dan merasakannya. Al Qur¡Çan menggambarkan bagaimana bidadari, telaga, makanan, pohon, rumah, dipan2 di surga seakan-akan kita sudah berada di sana dan menikmatinya. Demikian pula dengan neraka, al Qur¡Çan menggambarkan bagaimana sifat makanan dan minuman penduduk neraka, bagaimana siksa yang mereka hadapi seakan-akan kita sedang mengalami siksaan tersebut, sehingga tidak jarang mereka yang rajin bermuhasabah dan shalat malam menangis tersedu-sedu karenanya. Dengan penggambaran itu sebenarnya Allah SWT sedang mendidik kita untuk memiliki orientasi akhirat, bukan dunia. Allah SWT menghendaki diri kita untuk memandang diri kita sendiri nanti di surga dengan berbagai kenikmatannya bukan di neraka.

 

Rekan2 sekalian, kalau kita telah mengidentifikasi diri kita sebagai penduduk surga, telah merasa sebagai penduduknya, maka apa yang harus kita lakukan? Kita harus beramal sebagaimana amalnya penduduk surga atau mereka yang dijanjikan surga. Kita harus mempunyai misi yang juga besar! Misi tersebut sebagaimana yang ditetapkan Allah SWT adalah :

 

¡ÈTidak Ku-ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku.¡É (adz Dzariyat : 55)

 

¡ÈBersegerah pada ampunan dari Tuhanmu dan surga yang seluas langit dan bumi yang diperuntukkan untuk orang2 yang bertaqwa (muttaqiin).¡É (Ali Imran : 133)

 

Misi keberadaan manusia adalah beribadah yang kemudian menjadikannya muttaqiin yang dengan predikat itulah ia berhak untuk masuk surga. Adapun ibadah secara taksonomis ada yang bersifat individual dan social. Sedangkan untuk diterimanya Cuma dua syarat, pertama cara sesuai sunnah, kedua niat ikhlash. Secara pribadi ibadah membangun manusia yang shalih, sedangkan secara social membentuk manusia mushlih (yang membuat perbaikan) yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

 

Rekan2 sekalian, visi, misi yang baik harus disertai dengan program yang baik pula. Sulit dibayangkan jika visi kita masuk surga, misi menjadi orang bertaqwa tapi program yang dijalani untuk menjadi maling. Memang ada maling tobat, ada pula pelacur tobat tapi toh untuk selanjutnya ia menjalani program untuk menjadi orang shalih. Sebaliknya pada beberapa kasus, program yang seharusnya menjadikan orang shalih justru menghasilkan penjahat. Seperti kasus Qarun yang dulunya pengikut setia Mabi Musa  as. yang akhirnya ingkar dan menjadi icon pria duniawi di dalam al Quran. Atau yang paling sering kita baca dalam al Quran adalah program yang dijalani Bani Israil yang lebih banyak menghasilkan orang inkar daripada orang shalih, padahal Nabi yang diturunkan pada mereka jumlahnya bejibun dan berkualifikasi jempolan. Pasti ada sesuatu sehingga akhirnya kaum inilah yang demikian banyak mengisi lembar-lembar kitab suci al Quran dengan berbagai keanehannya.

 

Untuk kesempatan kali saya tidak membahas ada apa dengan Bani Israil sehingga program yang sebaik apapun yang mereka jalani dari generasi ke generasi lebih banyak menemui kegagalan dari pada keberhasilan. Saya hanya memberi gambaran bahwa program yang baik tidak selama menghasilkan yang terbaik, karena program melibatkan bukan hanya agenda aksi dan pemimpin yang brilyan tetapi juga orang-orang yang menjalani agenda aksi tersebut. Sekarang saya akan mencoba membahas beberapa aspek yang terkait dengan program.

 

Program adalah tindakan yang akan kita lakukan untuk mewujudkan visi dan menyelesaikan misi yang kita emban. Untuk berhasil maka aktivitas tersebut haruslah relevan bukan hanya dengan tujuan itu sendiri tapi juga dengan kondisi kita sekarang. Hal ini terkait dengan di mana kita akan melakukan start dan metode apa yang akan diterapkan. Oleh karena itulah maka program yang dicanangkan seseorang sangat bersifat individual dan unik. Penyamarataan program berarti tidak mempertimbangkan dan menghargai situasi dan kondisi individu, biarkan tiap individu berkembang dengan programnya masing2. Intervensi terhadap program seseorang sedapat mungkin diminimalisir, kalaupun ada maka dengan pertimbangan amar ma¡Çruf (penyempurnaan ke arah yang lebih baik) nahi munkar (jika terjadi ketidaktepatan) dan dilakukan dengan pendekatan cara bil hikmah wal mau¡Çizhatil hasanah. Karena kita telah memasuki wilayah pribadinya, di mana belum tentu semua orang menerima dengan antusias maksud baik kita.

 

Setiap program pasti melibatkan 3 P, yaitu Process, People & Physical condition. Visi dan misi seseorang pasti akan mempengaruhi proses model apa yang kita ambil dalam mewujudkannya, orang seperti apa yang akan diajak dalam tim yang dikelolanya dan fasilitas apa yang dibutuhkan untuk mempermudah pencapaian tujuan tersebut? Misalnya dalam peperangan. Tujuan adalah mengalahkan musuh yang besar jumlahnya dan lebih peralatannya dengan memakai orang dan peralatan terbatas. Proses yang dipakai adalah strategi perang gerilya. Anggota tim : sniper (penembak tepat), demolitioner (Peledakan), trapper (pembuat jebakan), silent killer, interceptor (penyergap/penghadang). Alat yang dibutuhkan : senapan khusus sniper + amunisi, bahan peledak, senapan sergap, peralatan survival dll. Dari strategi yang tepat, orang yang kompeten dan peralatan yang mendukung diharapkan musuh dapat dikalahkan dalam waktu yang telah ditentukan. Tiap strategi/proses memiliki keunikan tersendiri. Pada perang gerilya tentu saja kurang dibutuhkan senjata nuklir, pesawat tempur, atau tank. Yang dibutuhkan adalah peralatan-peralatan tempur yang ringan dengan tingkat mobilitas yang tinggi dan lincah. Sulit dibayangkan perang gerilya keluar masuk hutan, mengacau pinggiran kota dan cepat menghilang tapi dengan membawa-bawa meriam, tentu tidak efisien.

 

Kesalahan terbesar dari pernikahan yang kurang berhasil adalah menentukan orang dan peralatan sebelum memiliki tujuan yang jelas. Lebih parah lagi kalau tujuannya jelas tapi orangnya tidak sesuai, artinya kita menafikan sunnatullah, akal tak terpakai, persis kayak Yahudi tahu banyak hal tapi beramal tak kunjung sesuai ilmu. Kita sudah menentukan si A, si B untuk jadi pasangan kita, padahal sudah jelas-jelas sulit terjadi sinergi dengan visi dan misi kita ke depan. Untuk contoh di atas misalnya dalam perang gerilya kita menyertakan seorang ahli senjata nuklir di tim kita, karena alasan bahwa ia adalah orang yang cerdas. Benar ia cerdas untuk bidangnya tapi untuk perang gerilya mau ngapain dia di sini? Mending ke laboratorium udah jelas kerjaannya.

 

Pada program kita misalnya untuk menjadi orang shalih kita butuh isteri yang juga shalihah yang dapat menjadi mitra amar ma¡Çruf nahi munkar, saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Program ini baik, tapi jika ternyata wanita yang kita pilih menjadi isteri adalah wanita yang menghabiskan malam2nya di diskotik, pulang pagi, mabuk pula. Bagaimana ia dapat berkontribusi maksimal sesuai dengan visi dan misi yang kita canangkan, kalau ternyata dirinyalah yang harus di-up grade lebih dulu. Kalau kita berkeras memakai people yang sama, resikonya adalah waktu yang terbuang untuk proses pertobatan, pembelajaran, belajar beramal, kemudian beramal dst¡Ä Memang tidak ada waktu yang terbuang percuma untuk sebuah proses pertobatan, tapi bagaimana nasib visi, misi dan program kita? Apa ada jaminan bahwa kita masih hidup selama program kita belum berjalan? Apa ada jaminan bahwa yang bersangkutan akan tobat dan berjalan sesuai visi, misi dan program kita? Tidak ada kan? Yang ada kita berharap bahwa semua berjalan ceteris paribus, semua berjalan linier sesuai rencana yang tidak direncanakan itu. Bagaimana kalau sudah lahir anak2 sedangkan kualitas ibunya belum sesuai untuk menjadi pendidik rabbani? Ini adalah beberapa renungan yang sebaiknya kita lalui sebelum visi, misi dan program kita berantakan di tengah jalan.

 

Rekan2 sekalian sebagai akhir tulisan ini saya akan membawakan perkataan Colin Turner dalam bukunya Lead to Succed dan mudah2an dapat menjadi bahan renungan kita bersama, bahwa visi yang besar butuh orang yang besar, begitu pula sebaliknya...

 

¡ÈSaya juga percaya bahwa pada tingkatan mana kita mengakomodasi keburukan, sebanding dengan kekurangan kita untuk memiliki tujuan yang jelas. Demikian pula pada tingkatan mana kita meminta yang terbaik sebanding dengan seberapa kita memiliki tujuan yang jelas. Menerima apa pun yang kurang berarti tidak menghargai baik apa yang kita lakukan maupun diri kita sendiri. Namun terlalu sering kita menerima begitu saja keburukan karena kita merasa lebih pasti dengannya.¡È


Track Back : http://manage.catatanku.com/tb.cgi/65_229_2007_04


Komentar

Judul
Nama Anda
Website



Masukkan kode verifikasi
Profile

Reza Muhammad lahir di Jakarta, 16 Juni 1975. Isteriku bernama Atikah, kami sudah memiliki dua orang Anak Muhammad dan Ibrahim. Saat ini bekerja sebagai Operation Manager di Bank Muamalat Indonesia Cabang Ternate - Maluku Utara. Saya hobi membaca yang dapat mengembangkan diri, keluarga dan umat. Sejak di Ternate Juli 2008 saya mengulangi hobi lama waktu SMP-SMA dulu, kolektor batu mulia (gemstone). Saya amat senang berolah raga terutama bela diri, membaca, menulis dan makan yang banyak dan enak. Saya bisa dihubungi di: oom_guanteng@yahoo.com
Kalender
3 <2007/04> 5
SunMonTueWedThuFriSat
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30      

Kategori

Artikel

Komentar

Trackback