Anda disini : TOP >> ilhamkoe >> Infaq Abu Bakar ash Shiddiq ra.
Infaq Abu Bakar ash Shiddiq ra.

Tulisan ini merupakan tanggapan saya atas pertanyaan di milist tarbawi community, sehubungan dengan perlombaan infaq yang dilakukan Abu Bakar ash Shiddiq dan Umar. Pada perlombaan tersebut Abu Bakar mengalahkan Umar dengan telak, karena hanya meninggalkan Allah dan Rasul-Nya bagi keluarganya (tidak ada yang disisakan untuk keluarganya). Pertanyaannya adalah apakah sikap tersebut tepat dan bagaimana Abu Bakar memulai kembali usahanya sedangkan seluruh hartanya telah habis diinfaqkan. Semoga bermanfaat.

 

Saya dapat tugas dari isteri tercinta untuk menjawab pertanyaan salah seorang anggota milis ini terkait dengan infaq yang dilakukan oleh Abu Bakar ash Shiddiq radhiyallahu ¡Çanhu, salah seorang sahabat utama yang paling dicintai dan juga mertua dari Rasulullah Shallallahu ¡Çalaihi wa sallam. Untuk mengetahui mengapa Abu Bakar ash Shiddiq radhiyallahu ¡Çanhu melakukan infaq sampai sedemikian ¡Énekad¡É-nya, kita harus mengetahui latar belakang yang mendasarinya. Ada 3 pendekatan yang saya lakukan, pertama dari sifat bangsa Arab, yang kedua adalah kejadian yang akan dihadapi pada saat itu dan ketiga yang paling penting adalah aspek keimanan dan tawakkal pada Allah SWT. Kemudian ada juga 2 ilustrasi sejarah dan bisnis. Literatur yang saya pergunakan adalah :

  1. ar Rahiiqul Makhtuum karya Syaikh Shafiyyurrahman al Mubarakfuri hafizhahullahu cetakan ketiga, Mei 2002, penerbit Rabbani Press.
  2. Fiqhus Siirah jilid 3 karya DR. Muhammad Sa¡Çid Ramadhan al Buthy rahimahullahu cetakan pertama, Januari 1993, penerbit Rabbani Press.
  3. at Tariikhul Islam karya Ahmad al ¡ÇUsairy
  4. Fadhailush Shadaqaat karya Maulana Muhammad Zakariyaa al Kandahlawi.
  5. Rich Dad Poor Daad karya Robert Kiyosaki
  6. MarkPlus on Strategy karya Hermawan Kertajaya

 

1.      Sifat dermawan bangsa Arab sebagaimana yang ditulis dalam ar Rahiiqul Makhtuum hal 44 adalah sebagai berikut:

Mereka membanggakan sifat tersebut dan setengah dari sya¡Çir mereka berisi pujian dan sanjungan terhadap orang lain. Apabila seseorang kedatangan seorang tamu, dalam situasi dingin yang mencekam dan lapar, sementara dia tidak memiliki harta lagi selain onta yang menjadi bekal hidupnya dan keluarganya, maka sifat kedermawanannya akan menggerakkan dirinya untuk menghormati tamu tersebuit dengan menyembelih ontanya. Di antara pengaruh sifat dermawan mereka adalah mereka sanggup menanggung denda yang sangat besar untuk mencegah tumpahnya darah dan hilangnya nyawa manusia. Kemudian mereka memuji dan membanggakan diri terhadap orang lain, seperti terhadap para pemimpin.

Di antara dampak kedermawanan mereka adalah mereka membanggakan perbuatan meminum khomer. Mereka tidaklah membanggakan  diri karena minumannya saja, tetapi karena hal itu sebagai salah satu jalan untuk mencapai kedermawanan di  samping mempermudah foya-foya. Oleh karena itu, mereka menamakan pohon anggur dengan al-karam (pohon dermawan), dan khomernya dinamakan bintul karam (anak pohon dermawan). Apabila anda perhatikan kumpulan sya¡Çir-sya¡Çir jahiliyah, anda dapati hal tersebut sebagai salah satu baba pujian dan kebanggaan.

Di antara akibat kedermawanan mereka adalah sibuk dengan perjudian. Mereka memandang bahwa perjudian merupakan salah satu jalan untuk mencapai kedermawanan, sebab dari hasil perjudian tersebut mereka hjgunakan untuk memberi makan orang-orang miskin. Oleh karena itu, al Qur¡Çan mengungkapkan dengan kalimat, ¡É..... tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.¡É (al Baqarah: 219)

 

Sifat dermawan sebagaimana disebutkan di atas dimiliki oleh masyarakat jahiliyah, yang masih belum bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk karena ketiadaan standar nilai yang mulia. Sekarang pertanyaannya: Bagaimana kualitas kedermawanan mereka setelah Islam? Bagaimana pula dengan kualitas kedermawanan seorang Abu Bakar ash Shiddiq, seorang yang dijamin masuk sorga, seorang yang sudah terkenal kebersihan sebelum zaman Islam? Kalau seorang dengan keimanan yang tidak jelas, masih dikategorikan sejahil-jahilnya orang, masih bisa melakukan hal seperti itu apalagi Abu Bakar.... Allahumma shalli wa sallim wa baarik ¡Çalaa Muhammad wa ¡Çalaa aalihii wa ashhaabihii ajma¡Çin.

Pada halaman yang sama dan sesudahnya insya Allah kita akan mengerti mengapa risalah Islam diturunkan pada nabi yang berbangsa Arab dan disebarkan oleh para sahabat beliau yang berbangsa Arab pula. Penyebabnya bukan karena bangsa Arab adalah bangsa yang paling jahil, tapi.. ya udah baca aja sendiri....

 

2.      Kejadian yang akan dihadapi pada saat itu adalah perang Tabuk, kisah cerita ini dapat dibaca pada Mubarakfuri:652-668 dan al Buthy,III:188-225.

Perang ini adalah peperangan kaum muslimin yang kedua setelah perang Mu¡Çtah melawan imperium Romawi. Dalam sejarah peperangan melawan Romawi, tidak ada perang dalam skala kecil, selalu besar. Untuk perang Mu¡Çtah, Romawi mengerahkan 200.000 orang prajurit, sedangkan kaum muslimin hanya 3000 orang, hanya saja perang ini tidak dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW. Pada perang Tabuk, kaisar Romawi Heraklius mengerahkan 40.000 prajurit belum ditambah dengan beberapa kabilah Arab nasrani seperti Lakhm, Judzam dll.

Perang Tabuk dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW dengan kekuatan 30.000 personil. Perang ini memiliki posisi yang amat strategis, baik bagi Romawi maupun kaum Muslimin sendiri. Hal ini karena setelah perang Mu¡Çtah sikap mayoritas kabilah Arab saat itu adalah berupaya melepaskan diri dari kekuasaan Romawi untuk bergabung bersama kaum muslimin. Hal ini merupakan bahaya yang mengancam kekuasan Romawi di wilayah perbatasan Syam, sehingga kekuatan kaum muslimin harus dihancurkan sebelum berkembang menjadi besar dan sulit dihancurkan serta menimbulkan gejolak dan pemberontakan di wilyalah2 Arab yang berbatasan dengan Romawi.

Bagi kaum muslimin sendiri, jika Romawi sampai memasuki wilayah2 yang telah dikuasai Islam, resikonya adalah kembalinya kekuatan jahiliyah yang pada saat itu tinggal menanti ajalnya saja, setelah mengalami pukulan telak pada perang Hunain dan Thaif. Di saat yang sama kaum munafiqun yang selama ini menjalin hubungan dengan raja Romawi melalui Abu Amir al Fasiq juga telah bersiap-siap memberi pukulan dari belakang jika pasukan Heraklius menyerang dari depan. Dengan demikian, upaya yang telah dikerahkan oleh beliau dan para sahabat dalam menyebarkan Islam akan gagal dan hasil yang telah mereka raih melalui berberapa peperangan berdarah dan patroli2 militer yang berkesinambungan akan lenyap begitu saja. Rasulullah SAW yang menyadari hal tersebut, memutuskan untuk berperang menghadapi Romawi di daerah perbatasan mereka. Beliau tidak membiarkan mereka hingga datang ke negeri Islam.

Karena nilai strategisnya ini, maka perang Tabuk adalah perang yang highly prepared, tidak seperti perang-perang yang lain yang cenderung mubaghatan (mendadak), tentunya kita masih ingat kisah perang Uhud di mana jenazah Hanzhalah dimandikan oleh para malaikat karena belum sempat mandi junub di malam pengantinnya. Di antara persiapannya adalah persiapan kendaraan dan perbekalan tempur. Banyak kisah2 heroik para sahabat dalam berinfaq pada saat ini, di antaranya:

  1. Utsman bin Affan ra.: sebelumnya, utsman telah menyiapkan kafilah dagang yang akan berangkan ke Syam berupa 200 ekor unta lengkap dengan pelana dan barang2 yang diangkutnya dan 200 uqiyah. Setelah mendengar pengumuman Rasulullah SAW, Utsman segera menshadaqahkan semua itu, ditambah lagi 100 ekor unta dengan pelana dan perlengkapannya, kemudian datang lagi dengan 1000 dinar (1 dinar = 4,25 gr emas murni, asumsi 1 gram = Rp180.000,- maka : 1000 X 4,25 gr X 180000 = Rp 765.000.000,-) diletakkan di pangkuan Rasulullah SAW. Utsman terus berinfaq sampai jumlah mencapai 900 ekor unta, 100 ekor kuda plus uang. Ngebayangkan kan harga 1 ekor unta atau kuda, abis itu kaliin aja berapa. Pukul rata harga unta dan kuda Rp 10 juta per ekor, dikali 1000 kita akan dapat angka Rp 10 milyar. Catatan aja harga kuda delman sekitar Rp 5 jutaan, wajar kalau kuda perang minimnya Rp 10 juta.
  2. Abdurrahman bin Auf  membawa 200 uqiyah perak.
  3. Abu Bakar ash Shiddiq membawa seluruh hartanya dan tidak menyisakan untuk keluarganya kecuali Allah dan Rasul-nya. Nilainya 4000 dirham (1 dirham = 2,975 gr perak murni, asumsi 1 gram = Rp9.500,- maka : 4000 X 2.975 gr X 9500 = Rp 113.050.000,-). Catatan : pada zaman Khalifah Umar ditetapkan bahwa berat 7 dinar = berat 10 dirham. Ekuivalen nilai barang adalah: 1 dinar = harga 1 ekor kambing, sedangkan 1 dirham = harga 1 ekor ayam (kayaknya sih ayam kampung). Dapat dilihat di: http://www.islamhariini.org/dd/dsdd01.htm
  4. Umar bin al Khatthab ra. Menyerahkan separuh dari hartanya, demikian pula al Abbas, Thalhah, Sa¡Çd bin Ubadah, Muhammad bin Maslamah al anshari.
  5. Ashim bin Adi menyerahkan 90 wasaq korma, yang lain berinfaq sebesar 1 atau 2 mud karena hal itu yang dapat mereka lakukan. Kaum wanita menyerahkan berbagai perhiasannya.
  6. Orang munafiq kikir dan menahan hartanya. Allah berfirman, ¡ÉOrang-orang munafiqlah) yang mencela orang-orang mu¡Çmin yang memberi shadaqah dengan suka rela, dan mereka pun menghina orang-orang yang tidak memperoleh (apa yang dishadaqahkan) selain sekadar kesanggupannya .¡É (at Taubah : 79)

Demikian besarnya kebutuhan perang tersebut sehingga tidak dapat mencukupi kebutuhan normal perang. Dalam perjalanan menuju Tabuk, menurut al Mubarakfuri setiap 18 (delapan belas) orang dapat jatah satu unta yang dikendarai secara bergiliran, sedangkan menurut Al Buthy setiap 10 orang 1 unta. Seringkali pula mereka memakan daun-daunan sehingga bibir para sahabat yang mulia itu jontor. Oleh sebab itu pasukan ini dinamakan dengan Jaisyul ¡ÇUsrah (pasukan yang berada dalam kesulitan). Para perang ini pula muncul istilah al bukaa¡Çun (orang-orang yang menangis) karena ketidakmampuan mereka untuk membiayai dirinya dalam perang. Kisah mereka ini diabadikan dalam al Quran surat at-Taubah : 92, ¡ÉAku (Rasulullah) tidak memperoleh kendaraan untuk mengangkut kalian.¡É Lalu, mereka kembali, sedang air mata mereka bercucuran karena merasa sedih tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.¡É

 

3.      Dari perpektif iman dan tawakkal pada Allah SWT kita akan selalu menjumpai bahwa 2 faktor ini adalah driver utama dari kekuatan kaum muslimin untuk membelanjakan hartanya di jalan Allah SWT. Cukuplah bagi kita al Qur¡Çan dari sebagai peringatan:

 

¡ÉPerumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seumpama biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai itu berisi seratus biji. Dan Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yan dikehendakinya. Dan Allah Maha Luas (karunianya) lagi Maha Mengetahui.: surat al Baqarah: 261

 

¡ÉKamu tidak akan memperoleh kebakian (yang sempurna) sehingga kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu infaqkan dari sesuatu, maka Allah mengetahuinya.¡É (surat Ali ¡ÇImran : 92)

 

Disebutkan dalam Kitab Fadhailush Shadaqaat karya Maulana Muhammad Zakariyya al Kandahlawi pada halaman 83:

 

Dari Abu Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, ¡ÈBahwa sedekah tidak mengurangi harta. Allah akan menambah kemuliaan kepada orang yang pemaaf.  Dan barangsiapa merendahkan diri karena mencari keridhaan Allah SWT, maka allah SWT memberinya derajat yang tinggi.¡É (HR. Muslim, Misykat)

 

Dan halamaan 94:

Asma ra. Berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda kepadanya, ¡ÈBelanjakanlah (sebanyak-banyaknya) dan janganlah menghitungnya; (kalau engkau berbuat begitu) nanti Allah SWT juga akan menghitung untuk engkau. Jangalah menumpuk-numpuk harta, (bila demikian) nanti Allah SWT akan menutup pemberian-Nya kepada engkau. Belanjakanlah sesuai kemampuanmu.¡É (HR. Muttafaqun alaih, Misykat)

 

Keyakinan yang benar akan membuat seorang muslim menyadari bahwa diri dan hartanya adalah milik Allah SWT, sehingga pemanfataannyapun harus sesuai dengan grand design Allah SWT sebagai Khaliq, yaitu wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liya¡Çbuduun. Keyakinan ini juga membuat seorang Abdurrahman bin Auf dengan entengnya meninggalkan harta bendanya di Makkah untuk hijrah ke Madinah dengan modal dengkul. Dengan dengkul yang ia miliki ini dalam waktu yang tidak berapa lama beliau kembali menjadi hartawan dan kembali menjadi pundi-pundi perjuangan Islam. It¡Çs a matter of believe in Allah and entrepreneurship.

 

Melihat dari tiga konsideran di atas, yaitu sifat kedermawanan bangsa, pentingnya perang ini yang amat menentukan nasib da¡Çwah dan negara Islam ke depan dan keimanan yang menghunjam di dada, wajar jika para sahabat tidak takut miskin menyerahkan hartanya.

 

Konsideran tambahan adalah adalah dari perspektif sejarah dan bisnis. Pada perspektif sejarah akan kita temukan ¡ÉTeori Bakar Kapal¡É yang ditawarkan oleh Thariq bin Ziyad ketika menaklukkan Andalusia. Seperti masyhur dalam sejarah, begitu mendarat di Gibraltar, Thariq bin Ziyad membakar seluruh kapalnya dan berkata pada pasukannya, ¡ÉWahai manusia, kemana lagi kita akan melarikan diri? Lautan berada di belakang kalian, sedangkan musuh telah menghadang di depan kalian, tidak ada pilihan bagi kalian kecuali jujur pada diri sendiri dan sabar.¡É

Kalau kita mau kritis berfikir, akan timbul sebuah pertanyaan logis, ¡ÉGimana pulangnya, kapalnya udah dibakar semua, sedangkan perang belum tentu menang, apa Islam mengajarkan fatalisme?¡É

Kesimpulan saya, ¡ÉManusia kalau punya fokus yang jelas dalam hidupnya, akan dapat berbuat apapun, hatta fokus hidupnya salah secara content tapi jika disertai dengan intensitas yang tinggi insya Allah bisa menjadi sesuatu. Tentunya kita masih ingat bagaimana Nazi Jerman dengan keyakinan yang ngaco tapi menguasai hampir seluruh Eropa, demikian pula Paganis Jepang mampu menguasai Asia, atau yang paling spektakuler adalah Jenghis Khan dari Mongolia, negeri yang terletak di padang Pasir, kental dengan tribalisme-nya tapi mampu menguasai hampir 1/3 dunia. Umat Islam dengan content yang benar tapi intensitas terhadap keyakinannya rendah, akan tetap jadi umat marginal sampai suatu saat content yang benar bertemu dengan tingginya intensitas, seperti yang terjadi pada masa keemasan Islam (Rasulullah & Sahabat, Tabi¡Çin dan Tabi¡Çut tabi¡Çin sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih tentang khairul quruun). Menyadari bahwa keinginan mundur atau melarikan diri jika terdesak adalah sesuatu hal yang dapat memecah fokus dan memberi energi negatif, maka Thariq bin Ziyad membakar seluruh kapal agar fokus pasukannya adalah menang! Dalam kasus infaq Abu Bakar ash Shiddiq ra. adanya harta yang tertinggal bagi keluarganya, menunjukkan bahwa beliau tidak fokus. Satu sisi berfikir tentang jihad sabiilillah dan sisi yang lain masih memikirkan keluarga yang ditinggalkan. Untuk seorang Abu Bakar hal demikian menunjukkan ¡ÉCederanya Tawakkal pada Allah SWT¡É.

 

Pada perspektif bisnis akan kita temukan teori tentang give and take ini dari salah satu orang yang dianggap sebagai financial guru¡Çs, yaitu Robert Kiyosaki (banyak juga yang menganggap karya beliau = rubbish, salah satunya adalah John T. Reed). Selama yang saya baca dan pelajari tentang beliau kesimpulan saya satu, ¡ÉIni orang tuhannya cuma satu: duit!¡É Tapi dibalik itu beliau toh tetap percaya satu hal yaitu, ¡ÉKalau lagi krisis financial, sumbangkan sisa uang anda ke proyek-proyek sosial. Sumbang ke gereja, NGO dll, jangan pakai untuk modal, sumbangkan! Untuk mengundang uang harus pakai uang juga, tidak berlaku rumus take and give tapi yang berlaku adalah give and take. Kita memberi baru kita mendapat.¡É Menurut beliau ini pernyataan ini lebih mirip seperti aksioma, rumus mati, tidak dapat ditawar bahkan universal. (Saya agak lupa di halaman berapa, karena buku Rich Dad Poor Dad saya tidak ketemu, jadi ini adalah kutipan bebas sesuai ingatan, persisnya baca aja sendiri)

Kesimpulan saya, ¡ÉOrang yang dapat dianggap sebagai mbahnya capitalist saja masih percaya terhadap power of giving, bagaimana lagi kita yang dijamin oleh Allah SWT? Mereka memberi benar-benar ada pamrihnya saja bisa dapat keuntungan yang luar biasa apalagi kita yang insya Allah ikhlash, lillahi ta¡Çala?

 

Hermawan Kertajaya dalam buku MarkPlus on Strategy, ketika menjelaskan materi tentang sustainability market-ing enterprise mengutip buku karya David Hurst, Crisis & Renewal: Meeting the Challenge of Organizational Challenge, menjelaskan bahwa setiap usaha akan ada fase di mana mereka harus melakukan creative-destruction (penghancuran kreatif), fase itu dikenal dengan nama CRISIS. Krisis akan membuat seorang pemimpin harus melakukan hal-hal yang ekstrem dan tidak populis untuk menyelamatkan perusahaan, penjualan asset, pengurangan karyawan, perampingan manajemen adalah salah satunya. Krisis akan membuat orang-orang yang berada dalam organisasi seperti memasuki tahap ketika perusahaan baru berdiri, di mana setiap orang akan fokus pada visi dan misinya, di mana kegagalan di satu bagian berarti hilangnya eksistensi organisasi. Dan pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu menciptakan situasi krisis walaupun organisasi yang dipimpinnya dalam masa keemasannya. Rasulullah SAW adalah sosok yang paling tepat untuk ini dan untuk dunia bisnis sekarang kita akan menemukan nama Jack Welch (CEO General Electric).

Anda percaya tidak kalau orang-orang yang beriman dari dulu sampai sekarang selalu dihadapkan pada situasi krisis? Kalau anda ingin bukti, mudah! Buka al Quran baca ayat-ayat tarhib tentang keganasan neraka. Buka hadits tentang kecaman terhadap pelaku maksiat. Apa anda masih merasa aman? Apa anda tidak merasa berada dalam krisis masa depan yang amat panjang? Perbedaannya adalah Rasulullah SAW mampu menimbulkan dan menumbuhkan hal tersebut dalam hati para sahabatnya. Sedangkan kita.... ya rasain aja sendiri.

Bagi saya apa yang dilakukan para sahabat dalam hal ini Abu Bakar ash Shiddiq ra. adalah suatu bentuk creative-destrucition baik dari situasi keimanan mereka yang selalu dipenuhi oleh huru-hara hari kiamat dan kenikmatan surgawi maupun karena situasi dan kondisi real bahwa eksistensi mereka sebagai umat sedang berada di ujung tanduk peradaban.

 

Pertanyaan selanjutnya tentang dari mana Abu Bakar memulai kembali usahanya kalau seluruh hartanya habis disumbangkan? Pertanyaan yang sama juga harus ditanyakan pada seluruh kaum muhajirin yang berhijrah dengan bekal seadanya, tapi toh di antara mereka ada yang dengan cepat menjadi saudagar lagi. Jawabannya mungkin adalah:

Pertama, karena entrepreneurship mereka yang begitu tinggi disamping karena faktor izin Allah SWT. Perlu diketahui bahwa penduduk Makkah sebagian besarnya hidup dengan berdagang agak berbeda dengan kultur Madinah yang agraris.

Kedua, bisa jadi mereka mendapatkan harta atau modal dari ghanimah (harta rampasan perang) yang mereka peroleh pasca perang. Perlu diketahui bahwa penghasilan Nabi setelah menjadi pemimpin negara Islam Madinah berasal dari ghanimah. Dalam satu hadits (sorry belum sempat merefer di-takhrij di kitab mana) disebutkan bahwa sebaik-baiknya harta adalah yang berasal dari usaha yang paling utama. Usaha yang paling utama adalah jihad. Jadi harta yang didapatkan dari jihad adalah sebaik-baiknya harta. Tapi terus terang selama saaya membaca cerita perang Tabuk tidak pernah dijelaskan berapa ghanimah yang didapatkan, karena peperangan tidak terjadi. Hal ini karena pasukan Romawi dan Arab Nasrani sudah sangat ketakutan mendengar kedatangan pasukan Rasulullah SAW lari terbirit-birit meninggalkan medan pertempuran. Satu-satunya harta yang didapatkan adalah jizyah dari beberapa daerah yang menyatakan takluk pada Islam. Jadi tepatnya saya tidak mengetahui bagaimana Abu Bakar ash Shiddiq ra. memulai kembali usahanya, bisa jadi dari salah satu dari di atas, bisa jadi dengan sebab yang lain. Wallahu a¡Çlam.

 


Track Back : http://manage.catatanku.com/tb.cgi/65_356_2007_07


Komentar

Judul
Nama Anda
Website



Masukkan kode verifikasi
Profile

Reza Muhammad lahir di Jakarta, 16 Juni 1975. Isteriku bernama Atikah, kami sudah memiliki dua orang Anak Muhammad dan Ibrahim. Saat ini bekerja sebagai Operation Manager di Bank Muamalat Indonesia Cabang Ternate - Maluku Utara. Saya hobi membaca yang dapat mengembangkan diri, keluarga dan umat. Sejak di Ternate Juli 2008 saya mengulangi hobi lama waktu SMP-SMA dulu, kolektor batu mulia (gemstone). Saya amat senang berolah raga terutama bela diri, membaca, menulis dan makan yang banyak dan enak. Saya bisa dihubungi di: oom_guanteng@yahoo.com
Kalender
6 <2007/07> 8
SunMonTueWedThuFriSat
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31     

Kategori

Artikel

Komentar

Trackback