Anda disini : TOP >> Tanggapan Komentar >> Tentang Perasaan 2 (Tanggapan Angel dan Vandy)
Tentang Perasaan 2 (Tanggapan Angel dan Vandy)

Pada tulisan saya yang berikut saya khususkan untuk menjawab komentar dari saudaraku Angel dan Vandy pada artikel ¡ÉAku Bangga Punya Nabi yang Berpoligami". Menarik dibahas  karena masih berhubungan dengan perasaan.

 

Begini bos, beberapa hari yang lalu saya dan isteri saya sedang makan di Mall Tatura (satu2nya Mall di kota Palu). Kemudian lahirlah percakapan demikian (beberapa kalimat ada yang ditambahkan baik oleh isteri saya maupun oleh saya sendiri) :

Saya :¡ÉMi, wanita itu lebih suka suaminya nikah lagi atau jajan aja diluar ?¡É

Istri : ¡ÉYa tergantung wanitanya, kalau yang mikirin agama suaminya mungkin mending nikah. Tapi ada juga yang pilihannya mending jajan aja asal jangan suaminya sampai nikah lagi. Karena temanku ada yang gitu, dan bilang sama aku: Biarlah dia main diluar, asal jangan dia nikah lagi.¡É

Saya : ¡ÉMi, kalau sekarang abang kawin lagi gimana perasaan umi?¡É

Isteri : ¡ÉGak tau juga soalnya belum pernah ngerasain, pengen juga sih nyoba. Rasanya prestasi juga buat umi kalau abang nikah lagi sama saja dengan hari-hari kemarin. Hebat juga kalau tidak ada rasa cemburu di hati umi pada isteri abang yang lain.BAHWA SUAMI TIDAK LEBIH (huruf besar ini asli dari isteri saya) unggul dihati saya dari pada Allah. Saya tetap berkhidmat dan menguranginya sama saja seperti kamu belum menikah. Wah...seandainya aku mampu itu...indahnya.¡É

Saya : ¡ÉMasalahnya para wanita yang mendampingi pria terbaik di kolong langit (Nabi Muhammad SAW) yang notabene juga wanita terbaik masih merasa cemburu satu sama lain. Kayaknya mustahil aqli deh kalau umi nggak cemburu.¡É

Isteri : ¡ÉIya juga sih,maksud umi luar biasa saja, wanita yang konon perasaan amat peka kemudian mendapati kenyataan bahwa dia harus membagi suaminya dengan wanita lain yang juga sama-sama memiliki perasaan yang sensitif. Luar biasa cobaan yang diberikan pada wanita.¡É

Saya : ¡ÉYang namanya ujian itu justru di tempat di mana kita lemah, bukan di tempat di mana kita kuat. Kalau ujian itu pada hal yang kita siap, hal yang kita mampu menanganinya itu nama latihan, bukan ujian.¡É (perkataan ini berasal dari Dr. Mardani guru ngaji saya dari tahun 1995-1998)

Isteri : ¡ÉJadi kapan abang mau kawin lagi?¡É

Saya: ¡Éhehehe....¡É

 

Sobat, kebetulan isteri saya masih keturunan Arab, di mana di keluarga isteri saya terlalu banyak contoh poligami yang berhasil, yang baik-baik saja. Kakek ibu mertua saya misalnya punya 4 isteri yang mulai dari isteri dan anak2nya akur sampai tua. Demikian pula salah satu famili isteri saya yang menjadi isteri kedua. Ia dilamar langsung oleh isteri pertama yang jauh2 datang dari Saudi Arabia untuk melobi calon madunya supaya mau jadi madunya. Setelah setuju dan proses pernikahan berlangsung, sang madu diboyong ke Saudi dan disambut oleh seluruh keluarga baik anak2 isteri pertama dan keluarga yang lain di sana. Beliau ditempatkan di apartemen yang sama hanya berbeda 1 lantai dari isteri pertama.

 

Jadi saat film Ayat-Ayat Cinta lagi heboh isterinya saya komentarnya pendek, ¡ÉCuma cerita. Banyak buka auratnya lagi.¡É dan sampai sekarang diajak menontonnyapun tidak mau. Mau diapain yang benerannya aja ada di depan wajah dia.

 

Kalau menurut saya cita rasa poligami antar suku bangsa itu berbeda-beda. Ada sebagian saudara-saudara kita di Malaysia yang menjadi isteri kedua dan seterusnya itu sudah hal yang lazim. Waktu ditanya, ¡ÉKok mau sih dipoligami?¡É Jawabannya pendek saja, ¡ÉEmangnya cewek Indonesia!¡É Di Sudan, isteri dari seorang Imam Masjid malu kalau suaminya hanya punya isteri satu. Saya juga tidak bisa menyalahkan kenapa orang Indonesia agak miring melihat poligami, karena memang secara budaya tidak biasa. Di Indonesia bukannya tidak ada praktek poligami, namun biasanya dilakukan oleh kalangan darah biru atau yang dapat menisbahkan diri pada kekuasaan. Tentunya kita ingat berapa jumlah isteri presiden pertama Indonesia dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Hal ini membuat tradisi poligami adalah monopoli mereka yang dekat dengan atau memang memegang kekuasaan. Ini agak berbeda dengan tradisi poligami pada masyarakat di Timur Tengah dari mulai zaman RasuluLLAH SAW sampai sekarang yang memandang poligami sesuatu hal yang biasa. Bahkan Islam datang untuk membatasi berapa jumlah maksimal isteri yang boleh dinikahi oleh seorang pria setelah sebelumnya tidak diatur.

 

Permasalahan ini ditambah dengan ter-blow up-nya berbagai praktek poligami yang tidak baik dan menambah masalah saja. Padahal jika kita objektif masih terlalu banyak juga success story poligami. Hanya orang kita dan mungkin bangsa yang lain masih berpegang teguh pada pribahasa, "Akibat nila setitik rusak susu sebelanga." Yang melakukan personal tapi yang rusak bukan hanya komunitas poligamer namun juga ajaran Islam yang memperbolehkan praktek poligami. Analoginya ada orang zina dan alhamduliLLAH masih shalat. Sebenarnya  orang shalat tidak ada yang salah, namun gara-gara yang shalat pezina, yang rusak malah kewajiban shalatnya. Akhirnya keluarlah kalimat, "Gak ada gunanya shalat, tuh yang shalat aja masih zina! Mana itu ayat yang bilang shalat dapat mencegah orang melakukan perbuatan keji dan munkar? Omong kosong!"

 

Ketika ditanyakan pada saya apa perasaan saya jika saudara perempuan atau ibu saya dipoligami. Saya jawab seandainya saya punya anak perempuan dan datang orang yang agamanya baik melamarnya sebagai isteri ke-4, akan saya nikahkan tanpa saya wakilkan pada siapapun. Saya punya kawan yang mencarikan suami untuk adik perempuannya. Yang istimewa ternyata untuk jadi isteri kedua. Bagi mereka hal itu suatu hal yang biasa saja tidak ada yang terlalu istimewa baik untuk dia dan adiknya, karena ternyata ayah mereka menikah lebih dari satu kali.

 

Untuk pertanyaan apakah ada cara lain untuk menolong janda tanpa harus menikahinya, saya jadi terpikir:

¡ÉKenapa harus tidak dengan jalan menikahinya?¡É ¡ÉApakah status janda menghilangkan hak para janda untuk menikah lagi?¡É

 

Hidup adalah pilihan, tiap pilihan mengandung konsekuensi. Tiap orang bebas menjadi siapa saja dan melakukan apa saja, namun hasil dari tindakan tersebut tanggung sendiri. Menjadi janda khususnya bagi yang ditinggal mati oleh suaminya bukan merupakan pilihan mereka. Demikian pula yang disebabkan cerai, mungkin hampir tidak ada orang menikah dengan maksud untuk bercerai, seluruhnya berencana agar langgeng, sampai tua. Walau akhirnya memilih menjanda, tapi menjadi janda bukan merupakan pilihan hidupnya. Pilihan hidupnya bisa jadi memiliki keluarga yang utuh, punya suami, punya anak, punya kehidupan yang utuh sebagaimana wanita lainnya. Pertanyaannya apakah kita tega melihat orang yang menempuh hidup yang sebenarnya bukan merupakan pilihannya. Saya percaya bahwa setiap orang pasti ingin memiliki pasangan hidup karena kita diciptakan dengan perangkat baik lahir maupun batin yang mendukung itu. Bagi saya pilihan menikahi janda adalah saling tolong menolong di jalan Allah, karena saya percaya bahwa membantu seseorang mewujudkan apa yang dicita-citakannya selama tidak melanggar hukum Allah SWT dan hukum positif adalah bagian dari ibadah pada yang Maha Kuasa. Hal yang sama juga berlaku pada perawan baik yang masih muda atau tua. Kalau ada yang berpendapat lain, silahkan.

 

Sebagai gambaran saya punya seorang rekan di kantor yang berusia di atas 40 tahun masih gadis. Agamanya? Luar biasa! Kalau sholat wajib sebelum azan sudah di mushalla keluar mushalla paling akhir, shaum Nabi Daud, sikapnya lurus dan tegas kayak ular menelan linggis, tingkat kecerdasan luar biasa dan beliau adalah harapan terakhir OB dan driver kalau lagi gak ada uang. Beliau tidak pernah mengeluh tentang kesendiriannya, hanya kita yang melihatnya tidak tega dan merasa sayang dengan potensi luar biasa yang dimiliki beliau jika menikah kelak. Bayangkan bagaimana jadinya anak yang diasuhnya? Bayangkan bagaimana bersyukur pria yang dapat mempersuntingnya? Tapi siapa perjaka yang berani sama beliau dan mau sama beliau. Baik posisi maupun gaji tinggi. Ngeliat gajinya saja para calon suami udah pada ngeper. Ngeliat agamanya para calon suami pada minder. Yang menjadi masalah terbesar adalah usia. Untuk usia yang hampir masuk 42 tahun sepertinya para bujangan akan mencari yang 20 tahun lebih muda.

 

Ada lagi teman isteri saya yang 21 tahun lebih muda dari teman saya itu, di usia yang amat belia sudah repot cari pasangan hidup. Insya Allah agamanya baik, untuk ukuran pria normal seperti saya, secara fisik oke juga. Istri saya pun sempat direpotkan dengan mencarikan bocah itu suami yang belum dapat juga sampai sekarang. Mau diapa? Belum jodoh! Di satu sisi teman yang tadi saya ceritakan menjodohkan adiknya sebagai isteri kedua kebetulan mempercayakan pada saya untuk dicarikannya isteri kedua. Saya berusaha memanfaatkan moment ini agar keduanya bisa dipertemukan, tapi yang perempuan masih pikir2, yang cowok ready to get married again. Yang dahsyat isteri teman saya itu yang diikutsertakan dalam proses pemilihan isteri kedua. Dia selalu bilang, ¡ÉKalau isteri saya gak sreg sama orangnya, saya juga gak mau!¡É OK Bos, kita kan cuma numpang mau cari2 pahala aja. You are the boss lah.

 

Untuk pernyataan anda yang terakhir yang menyamakan poligami dengan selingkuh/jajan yang dilegalisir. Saya usul begini, bagaimana kalau setiap pernikahan pertama juga dianalogikan dengan zina yang dilegalisir. Perbuatan senggamanya kan sama antara yang belum atau yang sudah menikah, bedanya yang sudah nikah senggama berbekalkan surat nikah. Dengan logika yang sama berarti membeli barang secara kredit sama dengan pencurian yang diketahui oleh pemilik.

 

Sedang untuk keheranan anda bahwa banyak orang yang menuhankan dirinya, saya 100% sepakat karena dalam al Qur¡Çan juga disebutkan, ¡ÉApakah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?¡É (al Jaatsiyah : 23) sedangkan di satu hadits disebutkan bahwa, ¡ÉTidak beriman salah seorang dari kamu sebelum menjadikan hawa nafsunya tunduk pada apa yang diturunkan padaku.¡É (Arba¡Çin an Nawawiyah Hadits No. 41, menurut Ibnu Rajab al Hanbali hadits dha¡Çif, namun secara makna dikuatkan oleh ayat2 al Qur¡Çan yang lain. Lihat Jami¡Çul Ushul wal Hikam karya beliau). Untuk kasus poligami ini jumlah isteri yang dibatasi hanya sampai dengan 4 (empat) orang merupakan bukti ketundukan seseorang pada Allah SWT, minimal untuk tidak beristeri lebih dari jumlah tersebut dan menyalurkan syahwat pada batas2  yang telah ditentukan Allah SWT. Sebagaimana yang dipahami oleh seorang muslim bahwa tiap persenggamaan yang dilakukan pada isteri yang sah merupakan sedekah.

 

Jadi untuk saya, menikah lagi tidak diperlukan alas hukum agamanya karena pilihan menikah atau menikah lagi ada pada wilayah muamalah, di mana pada dasarnya seluruh hal yang berkait dengan muamalah adalah ibaahah (diperbolehkan), kecuali yang dilarang. Seperti halnya makanan semuanya halal kecuali yang diharamkan, demikian pula bisnis boleh saja yang tidak boleh adalah praktek riba. Menikah lebih dari satu pada dasarnya boleh (tidak diwajibkan, ada juga sebagian ulama menganggapnya sunnah) yang tidak boleh adalah lebih dari 4. Bersenggama dengan isteri boleh dengan gaya apapun, dari arah mana saja, karena pada maksud utama persenggamaan adalah istimta¡Ç (mencari kenikmatan) yang tidak boleh bersenggama di dubur dan pada saat haidh. Singkatnya untuk menikah lagi tidak perlu create reason ketuhanan karena memang diperbolehkan. Pernyataan itu tepat kalau misalnya dalam al Qur¡Çan ada ketentuan wajib menikahi empat orang wanita. Analoginya begini saja, anda tidak dilarang membeli motor merek apapun dan berapapun, asal ada uangnya. Yang dilarang misalnya naik motor gak pake helm, lampu merah dilanggar. Tidak ada aturan yang mewajibkan anda punya motor merek anu dengan jumlah anu, tidak pernah ada, tapi kalau melanggar aturan ya ditilang.

 

Hal ini berbeda dengan ibadah yang pada dasarnya haram kecuali yang disuruh. Jika misalnya shalat tidak pernah disuruh oleh Allah, haram bagi kita untuk shalat. Karena shalat hukumnya wajib maka kaum muslimin harus melaksanakan shalat. Analoginya adalah baju seragam tentara yang tidak boleh berbeda mulai dari warna, model, jenis bahannya bahkan cara memakainya pun diatur. Tidak diperkenankan memakai pakaian lain di tempat tugas kecuali seragam. Tidak menjalankan perintah, ya dihukum. Begitulah beda antara ibadah dan muamalah. Ibadah berada pada wilayah do (apa yang harus lakukan), sedangkan muamalah berada wilayah don¡Çt (apa yang tidak boleh dilakukan),

 

Sekaligus saya menjawab pertanyaan dari Vandy tentang RasuluLLAH SAW yang disuruh Allah untuk menikah. Sebenarnya sudah saya tulis pada tulisan yang anda komentari ini, yaitu saat menikahi Zainab binti Jahsy yang merupakan anak kandung dari bibi RAsuluLLAH SAW sendiri yaitu Shafiyyah binti Abdul Muththalib ra. Kisah ini diabadikan dalam Surat al Ahzab ayat 36-37. Sepanjang riset kecil-kecilan saya, hanya pernikahan ini yang dilandasi perintah Allah SWT, pernikahan yang lain hanya Allah SWT dan RasuluLLAH SAW yang tahu alasan sebenarnya. Kita sebagai umatnya hanya dapat mengambil pelajaran dari apa yang telah dilakukan beliau SAW. Intinya RasuluLLAH SAW saja tidak membutuhkan reason from god to get married again, so why we have to do something that prophet hasn¡Çt need?

 

Logika anda yang mempertanyakan mana ayat untuk menikahnya AA Gym menurut saya kurang tepat, karena jika ini diterapkan maka agama Islam ini hanya untuk RasuluLLAH SAW bukan untuk umatnya. Dengan logika ini semua orang boleh tidak shalat, zakat, shaum, haji, bahkan seluruh aturan agama Islam baik berupa perintah maupun larangan menjadi tidak berguna. Misalnya anda disuruh shalat, maka kalimat pertama yang keluar dari lisan anda adalah, ¡ÉYang disuruh shalat kan Rasul, tidak ada SK dari Allah untuk saya supaya menjalankan shalat.¡É Jika dilarang zina juga sama, ¡ÉYang dilarang zina kan Rasul, bukan saya. Buktinya tidak pernah ada tukang pos yang mengantar surat dari Allah yang berisi larangan untuk berzina.¡É

 

Semoga bermanfaat untuk semua. Kalau ada perkataan saya yang kurang berkenan saya minta dibukakan pintu maaf, kalau ada pendapat saya yang salah mohon koreksinya, karena kebenaran datangnya Allah dan kesalahan berasal dari saya yang banyak kekurangan terutama ilmu dan amal. HadanaLLAHu wa iyyakum ajma¡Çin was salaamu ¡Çalaikum wa rahmatuLLAHi wa barakatuh.

 


Track Back : http://manage.catatanku.com/tb.cgi/65_912_2008_05

Re: Tentang Perasaan 2
Oleh betty ( 06 Mei 2008 09:22:59 )
Wanita yang mau suaminya berpoligami krn mereka tahu bahwa wanita (isteri) akan mendapatkan derajat dan surga ditingkat yang tinggi dibandingkan dengan wanita (isteri) yang tidak mau berpoligami. Di lingkungan saya tinggal ada beberapa yang berpoligami dan mereka hidup rukun. Bahkan saudarapun, istrinya mengizinkan suaminya berpoligami dan malah ikut nyariin calonnya.
Re: Tentang Perasaan 2
Oleh sha ( 07 Mei 2008 11:44:23 )
assalamualaikum,

Klo mbahas ttg poligami ak slalu btany ddlm diriku sdiri, mengapa khadijah tdk dipoligami? dan lebih suka belajar dr beliau mengenai hal tsb drpd mpertanyakan tentang perasaan dan sebagainya. Krn poligami itu mmg halal adanya. Tdk tahu yang akan tjadi dgn esok krn Allah yg Maha Tahu, saat ini hanya bs bljr dr khadijah yg keibuan serta Aisya yg cerdas. Wallahualam:)
Re: Tentang Perasaan 2
Oleh Reza Muhammad ( 09 Mei 2008 15:25:07 )
tentang khadijah tidak dipoligami telah pernah saya bahas pada tulisan : Inkonsistensi Logika Pernikahan Rasul & Khadijah vs Poligami. tentang keharusan belajar pada Khadijah dan Aisyah sudah menjadi keharusan bagi kita baik pria maupun wanita, karena pertama mereka berdua termasuk shahabiyah dan yang kedua karena mereka pernah mendampingi pria terbaik di kolong langit.
Re: Tentang Perasaan 2
Oleh ahsani taqwiem ( 05 Juni 2008 13:24:08 )
tulisannya manteb sekali, bikin pencerahan bagi saya yang gelap ini...
jabat erat dan tabik!
Re: Tentang Perasaan 2
Oleh Siti Jenang ( 07 Juni 2008 03:37:13 )
menurut saya sih harus ada dan tepat konteksnya juga. masalahnya kan niat itu adanya di dalam kalbu. mana kita tahu... kalo dalam falsafah Jawa empat istri itu juga dimaknai empat macam nafsu, ammarah, mutmainah, lawwamah, dan supiah. tiap manusia pada dasarnya "beristri" keempat unsur tersebut. kadang disebut kakang kawah, adhi ari-ari, papat sedulur, lima pancer. tapi, pemahaman model ini jaman sekarang mungkin dianggap cenderung bid'ah... entahlah... he he he.. salam kenal
Re: Tentang Perasaan 2
Oleh reza muhammad ( 08 Juni 2008 19:31:14 )
waduh kangmas siti jenang sudah berkunjung... weleh2 (kata si komo) saya mesti sun matek aji dulu nih... udah lama gak denger kakang kawah, adhi ari2, papat sedulur, lima pancer sejak sandiwara radio tutur tinular habis... hehehe itu kan sebagian mantranya empu tong bajil waktu matek aji segoro geni. Salam kenal juga, semoga jadi awal yang baik. doakan saya dimudahkan Allah SWT untuk menulis tentang 4 macam nafsu itu.

Komentar

Judul
Nama Anda
Website



Masukkan kode verifikasi
Profile

Reza Muhammad lahir di Jakarta, 16 Juni 1975. Isteriku bernama Atikah, kami sudah memiliki dua orang Anak Muhammad dan Ibrahim. Saat ini bekerja sebagai Operation Manager di Bank Muamalat Indonesia Cabang Ternate - Maluku Utara. Saya hobi membaca yang dapat mengembangkan diri, keluarga dan umat. Sejak di Ternate Juli 2008 saya mengulangi hobi lama waktu SMP-SMA dulu, kolektor batu mulia (gemstone). Saya amat senang berolah raga terutama bela diri, membaca, menulis dan makan yang banyak dan enak. Saya bisa dihubungi di: oom_guanteng@yahoo.com
Kalender
4 <2008/05> 6
SunMonTueWedThuFriSat
    1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31

Kategori

Artikel

Komentar

Trackback